Tips dan Trik Dunia Jurnalis

Hai teman, nih buat kalian semua yang ingin jadi fotografer dibidang jurnalistik, ada beberapa cara agar hasil jepretan lebih keren dan sempurna. Langsung saja ke TKP !

1. Memahami peralatan dan mengoperasikan kamera


Secara teknis seorang fotografer harus menguasai alat kamera sebagai bekal untuk melakukan pekerjaan membuat foto dan belajar mengoperasikan: mulai dari cara memegang kamera hingga menguasaan teknik dasar fotografi.
Sehingga dengan penguasaan itu, fotografer bisa melakukan pekerjaan memotret  secara baik, tanpa mengalami kesulitan saat berada dilapangan.
Memang tidak ada ketentuan, seberapa hebat seseorang foto jurnalis dalam menguasai teknik fotografi. Tetapi semakin hebat seseorang dalam penguasaan teknik fotografi, semakin memudahkan fotografer dalam bekerja dengan segala kesulitan dan kreasinya saat memotret.
Akan tetapi bagi orang awam jangan berkecil hati. Tak perlu khawatir bagi mereka yang belum memahami teknik dasa-dasar fotografi secara baik. Mengingat kamera sekarang telah didesain sedemikian rupa, sehingga seseorang tak lagi harus belajar dasar fotografi yang menyita waktu lama.
Kesediaan fitur-fitur di dalam body kamera yang tersedia di pasaran saat ini, memudahkan dan mempersingkat seseorang dalam memahami kamera.
Maka akan dengan mudah seorang awampun dalam mengoperasikan kamera yang baru dibeli dari toko. Sehingga akan memudahkan pula seorang awam yang ingin mendalami fotojurnalistik. Seorang yang akan terjun ke foto jurnalistik tetap harus belajar dasar-dasar fotografi, meski dilakukan sambil jalan pada saat yang bersamaan mendalami fotojurnalistik.
Namun penguasaan teknik fotografi yang meliputi penguasaan dasar-dasar fotografi seperti pemanfaatan speed, diafragma, iso dll sebenarnya akan memberi ragam dan warna karya foto. Dengan penguasaan teknik yang lengkap dengan sudut pandang yang tepat, akan menghasilkan foto menarik yang terasa lebih indah, lebih menyentuh dan lebih berbicara.
Atau yang terpenting dengan penguasai fotografi, maka seorang fotografer akan dengan mudah menghasilkan sebuah karya foto benar-benar sesuai keinginannya (imajinasinya).
2. Memahami Komposisi
komposisi
Keseimbangan garis manyajikan estetika yang dapat menciptakan komposisi yang baik.
Bagaimana menentukan komposisi? Komposisi adalah tatanan gambar yang dihasilkan dari bidikan seorang fotografer.Bagi orang awam, menentukan komposisi sebenarnya tidaklah sulit, asal mau berfikir sedikit tentang posisi saat membidik objek foto.
Hasil foto yang enak dilihat dan menarik. Itulah sebenarnya komposisi. Tanpa kita sadari, pada saat kita melihat sesuatu, mata kita sebenarnya telah menentukan komposisi. Namun itu semua tidak pernah kita sadari. Hal ini karena terpengaruh oleh banyak aktivitas atau objek lain yang terus berubah, sehingga kita seolah tidak pernah menemukan komposisi yang menarik.
Komposisi dalam kamera, hanya terlihat sebatas jendela bidik saja. Apa yang terlihat di dalam jendela bidik itulah komposisi yang nantinya akan dihasilkan.
Maka komposisi di dalam fotografi sangatlah penting, karena akan mewarnai hasil pemotretan. Komposisi menjadi kekuatan visual dan kerapian dan keseimbangan estetika terhadap hasil foto. Komposisi juga dapat menentukan enak tidaknya dilihat dirasakan terhadap sebuah foto.
Dengan menguasai sebuah komposisi maka  seorang fotografer akan dengan mudah dapat menciptakan sudut pemotretan yang enak dilihat. Karena komposisi memberikan warna, kerapian dan keseimbangan estetika terhadap sebuah foto jurnalistik sebagai sebuah karya fotografi. Tentu ini bertentangan dengan kebiasaan yang dilakukan para pemula, yang asal jepret.
Pada hal sebelum menekan shutter, fotografer harus terlebih dahulu memperhatikan sisi kanan, kirim, atas maupun bawah dan dari mana objek akan difoto. Apakah posisi objek yang akan difoto telah sesuai dengan elemen lain yang ada disekitar objek  foto.
Elemen lain yang terdiri dari background, forground atau benda-benda lain yang masuk dalam frame rana, akan mempengaruhi tata letak dari sebuah gambar foto hasil pemotretan itu. Kalau elemen yang ada disekitarnya kurang membantu dalam memberikan warna komposisi yang dihasilkan, maka fotografer bisa berpindah tempat mencari posisi yang sesuai keinginan.
3. Memahami sudut pandang (angle)
SUDUT PANDANG
Setiap fotografer memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sebuah objek yang dilihat.
Bagaimana seseorang memahami sudut pandang (angle) terhadap sebuah objek foto. Untuk mendapatkan angle ini ditentukan oleh sudut pengambilan dan dari arah mana Anda smemotret. Sejauh mana dan dari sisi mana tempat yang dipilih dalam memotret.
Atau sebaliknya bagian mana atau sisi mana yang menjadi fokus utama yang menjadi interes –bagian tertentu dari objek yang dipotret.
Contohnya: Seseorang yang melihat gajah bisa berbeda persepsinya. Perbedaan terjadi karena cara memandang masing-masing orang berbeda antara satu dengan yang lain. Yang memandang gajah dari depan, pasti tidak sama, dengan persepsi seseorang yang memandang gajah dari belakang. Memandang gajah dari jarak yang jauh, dari jarak dekat, dan dari jarak yang sangat dekat (detail) pasti akan berbeda-beda persepsinya.
Begitu halnya memandang dari sudut atas atau dari bawah, maka  bentuk gajah yang didapatkan dalam foto pasti akan berbeda-beda pula. Itulah sudut pandang.
Memahami sudut pandang ini bagi seorang foto jurnalis sangatlah penting. Karena di dalam foto jurnalistik sudut pandang (angle) dapat memberika kekuatan, memberikan kedalaman terhadap sebuah karya foto yang dihasilkan.
Dan bagi seorang yang menguasai teknik dasar fotografi, kedalaman dan kekuatan sebuah foto yang akan dihasilkan bisa diperkuat lagi dengan memanfaatkan teknik-teknik tertentu dalam fotografi.  Tentu saja, hasilnya akan jauh lebih sempurna, disbanding seseorang yang tidak menguasai teknik dasar dalam fotografi.
Foto pemenang  World Press Photo of the Year 2004, foto jurnalis asal India, Arko Datta India dari kantor berita Reuters memotret seorang wanita India di Cuddalore, Tamil Nadu, India, 28 Desember 2004,  berkabung di atas kematian seorang keluarganya yang tewas dalam bencana Tsunami yang melanda kawasan Aceh, India dan Thailand.
Contoh foto:
Ini salah satu contoh foto berkualitas yang berhasil ditetapkan sebagai foto terbaik dalam lomba foto jurnalistik World Press Photo bergensi di dunia. Lihat foto di ambil dari sudut pengambilan dari atas, dengan latar belakang pasir. Digambarkan isak tangis seorang wanita tertelungkup di atas pasir yang meratapi jenazah keluarganya yang meninggal akibat Tsunami.
Arko hanya memperlihatkan sebagian tangan sebagai pengganti jenazah, sementara wanita yang tertelungkup menangis diperlihatkan secara utuh. Cara pandang Arko dalam dalam melihat  peristiwa ini memang sangat tepat dan bagus. Rupanya Arko tidak memperlihatkan jenazah secara utuh, namun fukus interesnya lebih pada objek wanita yang sedang meratap mencium bumi. Untuk memperlihatkan jenazah Arko sengaja memperlihatkan bagian kecil anggota tubuh korban, sebagai simbul kematian.
Ini salah satu contoh foto yang memiliki kedalaman dan makna yang dahsyat untuk sebuah peristiwa besar yang menghancurkan sebagian bumi kita. Maka tak heran, foto Arko, fotografer dari kantor berita Inggris Reuters ini ditetapkan sebagai foto terbaik dunia versi world press photo 2004.
Foto ini dipilih oleh dewan juri lomba foto jurnalistik kelas dunia untuk mewakili, sebuah peristiwa besar yang menelan ratusan ribu umat manusia dan merusak puluhan ribu pemukiman  penduduk.
4. Memahami Adegan (moment)
ADEGAN
Untuk mendapatkan sebuah adegan yang menarik seorang fotografer dibutuhkan kesabaran.
Selanjutnya bagaimana fotografer memahami dan menangkap moment atau adegan?.   Adegan dalam fotografi memberikan arti dari sebuah visual yang  ingin disampaikan oleh fotografer kepada penikmatnya. Maka  di dalam foto jurnalistik, adegan menjadi sebuah momementum yang paling penting agar sebuah foto itu mampu memberikan makna dan arti bagi penikmatnya. Adegan dalam foto jurnalistik mampu memberikan arti dan seakan orang yang memikmatinya mendapat cerita dari sebuah foto jurnalistik.
Adegan yang dimaksut adalah peristiwa, aktivitas, ekspresi, gerakan atau tingkah laku apa saja yang didapat dari objek foto.  Kalau kita memotret moment seseorang yang sedang berjabat tangan maka kita akan mendapatkan gambar orang berjabatan tangan saja.  Tetapi kalau kita mampu menangkap adegan lain yang lebih menarik  tentu fotografer akan mendapatkan sebuah karya yang bagus.
Adegan bisa saja terjadi didepan pengelihatan kita dan adegan juga bisa terjadi di luar penglihatan kita. Banyak adegan yang terjadi di depan penglihatan kita, tetapi kita gagal mengabadikannya.
Peristiwa spot news seperti tsunami, kelakaan pesawat, kecelakaan KA merupakan adegan peristiwa yang sering terhadi di luar penglihatan kita. Seseorang yang mendapatkan persitiwa seperti itu, pada saat yang tepat adalah orang tergolong beruntung.  Meski demikian banyak juga adegan yang ada di depan mata tapi gagal mendapatkannya, ini tentu, menyakitkan bagi Anda.
Yang terpenting dalam keseharian bagi seorang fotogafer adalah bukan mencari keberuntungan tetapi bagaimana memiliki kemampuan dalam mengabadikan adegan-adegan yang biasa menjadi luar biasa. Untuk mendapatkan adegan yang tidak biasa seorang fotografer dibutuhkan ketangkasan, imajinasi dan kreativitas dalam berfikir bertindak saat menghadapai sebuah adegan yang terjadi.
Disinilah pentingnya seorang fotografer dalam memiliki ketangkasan atau keterampilan untuk memilih dan menangkap mement. Maka jika ingin mendapatkan adegan yang bagus, dibutuh kesabaran menunggu, posisi yang tepat dan kecepatan membidik saat moment itu berlangsung.
Bagi seorang fotografer pemula semua ini membutuhkan pengalaman dan kesadaran dari dalam hati. Kesadaran yang dimaksut adalah kesadaran bahwa Anda adalah seorang pemotret adegan bukan orang yang sedang menonton adegan.
Maka jangan bengon saat muncul adegan menarik. Jangan biarkan adegan berlalu, tetapi amatilah adegan itu kemudian bidiklah dengan menekan shutter kamera secara cepatdan tepat.
Jika moment yang ditunggu-tunggu gagal kita abadikan, maka gagalah upaya itu. Kegagalan dalam mendapatkan moment  bagi seorang foto jurnalis hal yang biasa, namun bukan kegagalan utuk yang keduakalinya dalam adegan yang sama.
Kegagalan itu bakal menjadi pelajaran dalam proses pemotretan berikutnya. Ciri khas dalam foto jurnalistik yang paling menonjol, salah satunya adalah kekuatan  dalam menangkap sebuah moment atau adegan secara natural (bukan adegan yang dibuat-buat atau direkayasa).  Baik itu adegan yang menyenangkan, menyedihkan, lucu, unik ataupun adegan dramatis, keras seperti bencana alam, chaos, tabrakan KA dll.
Keterkaitan
Ketiga poin penting tersebut di atas (komposisi, sudut pandang) selalu terkait, saling dibutuhkan dan saling melengkapi. Ada moment bagus, tapi salah dalam pengambilan sudut pandangnya, akan menghasil foto tidak menarik. Kesempurnaan sebuah foto jika didapatkan dari adegan, sudut pandang pengambilan dan komposisi  yang tepat.
Sudut pandang dihadapi pada saat fotografer melakukan pemotretan. Sudut pandang merupakan salah satu langkah seorang fotografer dalam melihat sebuah objek foto. Sudut pandang juga dipengaruhi oleh posisi saat sedang memotret.
Banyak pilihan sudut pandang, apakah cara melihatnya dari dekat, dari jauh dari bawah, dari atas maupun dari jarak ataupun cara tertentu. Cara pandang ini, menjadi pilihan fotografer untuk memberikan cita rasa dalam membidik objek fotonya.
Semakin kreatif dalam mengembangkan sudut pandang, maka akan semakin mendapatkan variasi angle yang lebih menarik. Sedangkan moment merupakan adegan yang menjadi objek foto.  Adegan juga bisa menentukan baik dan buruknya sebuah karya foto. Adegan juga bisa memberikan pesan, arti, makna dari objek foto yang akan kita tampilkan.
Adegan yang dibuat-buat dapat memberikan pesan yang kurang menarik terhadap objek foto. Namun adegan yang tanpa dibuat-buat akan menimbulkan kesan yang natural, apa adanya dan terlihat nyata.  Maka, untuk mendapatkan adegan yang susuai keinginan, fotografer harus jeli dalam melihat sesuatu kemudian menangkap adegan itu, begitu seterusnya.
Tidak semua adegan menarik dapat dapat diambil gambarnya secara mudah.  Ada beberapa objek foto membutuhkan perjuangan dalam pengambilan gambarnya. Bisa saja, karena dalam pengambilannya memang membutuhkan peralatan atau karena kesalahan dalam mengantisipasi dalam menangkam adegan yang terjadi.
Moment atau adegan yang terjadi begitu cepat, seorang fotografer pemula seringkali gagal menangkap objek foto. Ini terjadi karena belum terbiasa dan belum memiliki naluri serta reflek yang cepat saat menangkap kejadian. Memang bagi seorang pemula kesulitan dalam mengambil gambar , sering kali dihadapi.
Namun bagi seorang pemula biasanya memiliki keinginan mengambil semua adegan. Seorangan yang berpengalaman, akan memilih beberapa adegan saja yang memang dianggap menarik. Seorang pemula biasanya mengambil dari sudut kebanyakan orang. Namun bagi seorang yang berpengalaman, akan memilih dari sudut yang tidak biasa di ambil oleh kebanyakan orang.
Saat membidik adegan yang menarik, seorang fotografer berpengalaman bisa mengerahkan seluruh tenaga dengan memanfaatkan settingan kamera secara continew. Sehingga dari seluruh adegan itu dapat diambil gambarnya semua, baru nanti dipilih beberapa yang paling sesuai.
5. Memahami Metadata
METADATA FOTO
Setelah memahami ke empat hal di atas, tugas akhir dari seorang jurnalis foto adalah mengisi meta data foto termasuk di dalamnya mengisi caption foto (teks foto).
Metadata foto adalah data-data yang berkaitan dengan data-data tertulis tentang, keterangan foto, tanggal pembuatan, tanggal publikasi, kategori foto, keterangan hak cipta, instruksi dari pemotret dll.
Dalam foto jurnalistik, keterangan foto dan metadata foto merupakan faktor penting yang wajib untuk diisi. Sebuah foto jurnalistik tanpa ada keterangan yang menyertainya menjadi tidak ada artinya atau bisa menjadi sampah.
Metadata wajib diisi oleh seorang jurnalis foto dengan mengacu ke International Press Telecommunications Cancil (IPTC). IPTC adalah organisasi yang menjadi wadah para jurnalis foto dan pembuat kamera di dunia, yang bersepakat dalam pengisian dan  keseragaman dalam metadata foto.
Cara pengisian metadata ini bisa dikalukan melalui beberapa cara. Dengan menggunakan berbagai macam aplikasi yang tersedia seperti  photoshops, photostation atau dengan menggunakan xn-View yang dapat diunduh melalui xnview.com
Penguasaan teknik fotografi, komposisi, sudut pandang (angle), moment dan metadata foto dalam foto jurnalistik merupakan rangkaian satu kesatuan yang saling terkait. Ke lima fase itu merupakan bagian yang saling melengkapi yang membuat kesempurnaan dalam membuat karya foto jurnalistik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar